Sabtu, 28 September 2013

Cinta dengan hati, Bukan dengan mata

Seberapa besar kamu menyukai keadaan aku? Sama sekali aku bukanlah penjamin kebahagiaan di setiap malam yang terus menggelapi. Kamu tahu hal besar apa yang mampu mengutuk aku untuk memberikan senyum yang tak pernah lelah? Adalah ketika kamu meminjamkan separuh hatimu untuk aku penuhi dengan kenangan-kenangan saat kita menjalani hari. Pagi, siang, dan malam, ialah landasan kita menghempaskan harapan sekencang-kencangnya di kala mata menutupkan pemejamannya, hanya gerakan hati yang melambung tinggi di dunia pengharapan cinta yang sering orang bilang. Kita adalah harapan untuk menghadirkan cinta yang tidak mempermainkan ketulusan.

Bukankah ketulusan itu lumrah bagi setiap orang ?

Memang !!!

Tapi bagi mereka yang sudah memahami untuk apa cinta itu terlahir. Cinta bukan dari mata, melainkan dari penutupan mata yang tertutup. Bukankah orang buta bisa merasakan cinta tanpa bisa melihat? Aku lebih memilih orang buta di banding dengan para lelaki yang hanya mengandalkan mata untuk mereka menangkap cinta.

Tunggu….

Sebelumnya aku ingin menceritakannya kepada semua. Aku buta, tidak bisa mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan mata. Tapi aku tidak pernah menyesali dengan apa yang terjadi padaku sampai sekarang. Aku masih bisa menjalani aktivitas seperti orang biasanya, termasuk cinta. Kalian tidak akan pernah tahu bahwa cinta bekerja pada hati, bukan dengan mata. Aku akan membuktikannya dalam satu hal.
Aku seperti lingkaran, tidak ada pemutusan di sepanjang garisnya. Begitulah skema yang sering aku terapkan pada sebuah cinta. Jika kita mempunyai pasangan, apakah dia akan selalu aman saat tidak di sampingmu? Aku tidak akan menjamin bahwa Ia akan baik-baik saja. Dunia tidak seindah dongeng para pangeran-pangeran dan permaisuri, ini adalah dunia nyata yang menyaksikan jutaan manusia terus mencari cinta sejatinya. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu hal besar apa yang merasuki ragamu bisa mencintai sosok seperti aku? Dengan penuh kejelasan bahwa aku mempunyai banyak kekurangan. Kamu selalu menjawabnya dengan penuh gerakan lembut di pipiku, membisikan pada telinga kananku, cinta adalah anugerah terindah yang di sampaikan Tuhan lewat diriku, kamu memintanya dan Tuhan mengabulkannya. Aku datang untuk menyambut cintamu.

Sering kali aku merasakan malu dengan kekuranganku ini saat menghadapi orang-orang yang engkau sengaja kenalkan. Aku merasakannya, sebuah ketulusanmu yang tak pernah padam dari sosok dirimu. Rasanya aku ingin membalas cintamu ini dengan kemampuanku yang tidak begitu kuat ini. Ya aku tidak lebih memberikan senyuman yang hangat di sepanjang harinya. Meski sampai saat ini aku belum bisa melihat wajahmu di pengharapan mataku yang terus menerus mengharapkan penerangan di gelap yang terus menyelimuti.

Aku memiliki apa yang orang lain belum tentu memilikinya, pun dengan mereka dengan kelebihannya masing-masing. Aku mempunyai ketulusan mencintaimu, tidak akan pernah lelah mencintaimu di sepanjang kita bersama. Berusaha menjagamu dengan kekuranganku. Aku tidak akan memandang aku buta, aku bangga menjadi buta, dengan kelebihannya mencintai seseorang tanpa penglihatan, itu hal yang sangat luar biasa. Dan aku pun percaya pada ketulusan hati.


Kamu adalah alasan yang sering muncul di alam sadarku, menerawangkan dan menyanyikan nada-nada suaramu yang terdengar tidak begitu merdu. Adalah penghangat malam yang tidak terlihat raganya. Adalah penikmat kata-kata yang sering aku eluhkan. Adalah pemaham hati dimana cinta seharusnya bekerja dengan tulusnya. Kamu adalah pilihan terbaikku. Terima kasih selalu menjadi teman hidupku.

- @ferdyrobiyanto

Rabu, 25 September 2013

Semisalnya Kamu Datang

Semisalnya Kamu Datang

Dengan nafas yang menurunkan sedikit ketidak berdayaan
Aku akan sanggup menjadi bagian malam yang akan engkau hangatkan.
Tempat simulasi pemisahan kita entah mengapa begitu sangat jauh
Kuatkan kerinduan ini Tuhan yang terus aku ciptakan sendiri.
Lampu pijar, kilauan sinar mentari, bahkan ratusan tetes hujan seakan mengajakku menari
Melengkapi dan menjaga kesepian yang melumuti dasar hatiku tanpa hadirmu.
Bagaimana aku merasa, bagaimana kamu merasa
Kita terlebur sama-sama merasakannya, jadilah kita sebagai penikmat perasa kerinduan.
Semisalnya kamu datang, akan ku bawa kamu dalam fantasi kesungguhan bercinta.
Semisalnya kamu datang, dekapan tubuh ini takkan mungkin lepas oleh sentuhan biasa.
Semisalnya kamu datang, namamu kini takkan tergantikan kembali.
Aku lelah menjumpaimu lewat mimpi,
Tanpa canggungnya kita melewati perputaran dunia yang begitu berbeda.
Terlebih dengan kicauan suaraku yang terus memanggil namamu di keadaan lelap.
Semoga harapan bisu yang mengantarkan aku pada pendeskripsian masalah yang kita hadapi bersama
Dengan melibatkan waktu dan jarak, aku mengharapkan kehadiranmu datang disini.

Minggu, 08 September 2013

Perngorbanan Bodoh

Menit demi menit aku termakan di dalamnya
Tidak lebih akan menunggumu di tempat yang istimewa ini
Mohon sadarkan aku yang terus memutarkan kenangan bersamamu
Maafkan semua organku yang merindukan dekapan tangan darimu
Cinta tak memandang kebodohan
Begitu pun aku yang terjerat kebodohan selalu menunggumu

                 Semisalnya aku tidak bisa melupakanmu
                      Apa aku harus salahkan pengabdianku pada ketulusan cinta?
                           Satu jam saja aku menuntut mimpimu agar kita berjumpa

Tidak mudah menjumpaimu dalam dunia nyata
Terasa begitu sulit melihat dirimu yang kini sudah bersamanya disana
Resapkan kerinduanku ini pada ujung pusat hatimu
Demi dunia yang akan terus berputar dan demi keadaan yang akan terus menghujatku
Pilihanku untuk melupakan dirimu begitu cepat adalah salah
Semakin aku mencoba melupakan, cinta ini semakin mengakarkan kekuatannya

                Aku lelah bila terus menunggumu tanpa sebuah isyarat
                     Mungkin pengorbananku hanya sebatas lelucon bodoh
                          Terima kasih untuk dirimu yang telah menghadirkan cinta
                               Namamu akan kuringkas istimewa dalam hatiku