pecundang….
Ya memang itu kata-kata yang pantes
untuk diri gue. Tidak selalu dalam hidup akan menjadi pemenang, ada kalanya
kita akan menjadi pecundang. Jika harus
memilih jadi diri yang sempurna, gue akan menolak dengan mentah-mentah, karena
dengan menjadikan sempurna itu kekurangan tidak akan menjadi kesempurnaan yang
lebih matang. Ini tentang diri gue yang selalau takut akan menjalani sebuah
cinta, kadang mental seorang pecundang akan lebih hina di banding seekor anjing
yang mempunyai mental baja.
Bukan karena seorang pecundang tidak
ingin berusaha, mereka sudah berusaha menjadi pemenang untuk tujuan yang mereka
inginkan, tapi takdir pecundang berkata lain. Seperti kaum lemah bila seseorang
menjadi pecundang, tentang soal cinta yang menjadi patokan tujuan pemenang .
Usaha demi usaha sudah dilakukan, mengenai hal yang memungkinkan maupun tidak
memungkinkan, tatkalah diri menjadi diri yang bukan sebenarnya. Namun memang
seorang pecundang belum saatnya menjadi pemenang, kekurangan harus menjadi
kelebihan tersendiri bila ingin menjadi seorang pemenang. Diri tak usah menjadi
diri yang lain, karena dirimu adalah sebuah harga mati bila tidak ingin jatuh menjadi
pecundang.
Termasuk gue yang selalu berusaha
lari menjadi seorang pecundang, kenyataan pahit yang selalu gue dapet dari
suatu hal ke hal yang lain, termasuk tentang hal cinta yang gue fikir gak masuk
akal. Tapi dari kenyataan pahit itu gue banyak belajar pada sesuatu hal yang
gue anggap mustahil.
Menjadi seorang pecundang tidak selamanya
buruk kok dimata orang, hanya saja waktu yang belum mengizinkan kita menjadi
pemenang. Sebuah quote dari Blair Waldorf yang memperlihatkan bahwa
takdir pecundang adalah yang membuat kita sendiri, bukan karena adanya takdir
yang sudah ada. Kita yang harus menjadikan kita pemenang, bukan takdir yang
menjadikan kita pecundang.
destiny
is for losers. it's just a stupid excuse
to wait for things to happen instead of making them happen. - Blair Waldorf -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar