Jumat, 19 April 2013

I’m a loser boy !!!


     pecundang…. Ya memang itu  kata-kata yang pantes untuk diri gue. Tidak selalu dalam hidup akan menjadi pemenang, ada kalanya kita  akan menjadi pecundang. Jika harus memilih jadi diri yang sempurna, gue akan menolak dengan mentah-mentah, karena dengan menjadikan sempurna itu kekurangan tidak akan menjadi kesempurnaan yang lebih matang. Ini tentang diri gue yang selalau takut akan menjalani sebuah cinta, kadang mental seorang pecundang akan lebih hina di banding seekor anjing yang mempunyai mental baja.

          Bukan karena seorang pecundang tidak ingin berusaha, mereka sudah berusaha menjadi pemenang untuk tujuan yang mereka inginkan, tapi takdir pecundang berkata lain. Seperti kaum lemah bila seseorang menjadi pecundang, tentang soal cinta yang menjadi patokan tujuan pemenang . Usaha demi usaha sudah dilakukan, mengenai hal yang memungkinkan maupun tidak memungkinkan, tatkalah diri menjadi diri yang bukan sebenarnya. Namun memang seorang pecundang belum saatnya menjadi pemenang, kekurangan harus menjadi kelebihan tersendiri bila ingin menjadi seorang pemenang. Diri tak usah menjadi diri yang lain, karena dirimu adalah sebuah harga mati bila tidak ingin jatuh menjadi pecundang.


          Termasuk gue yang selalu berusaha lari menjadi seorang pecundang, kenyataan pahit yang selalu gue dapet dari suatu hal ke hal yang lain, termasuk tentang hal cinta yang gue fikir gak masuk akal. Tapi dari kenyataan pahit itu gue banyak belajar pada sesuatu hal yang gue anggap mustahil.

          Menjadi seorang pecundang tidak selamanya buruk kok dimata orang, hanya saja waktu yang belum mengizinkan kita menjadi pemenang. Sebuah quote dari  Blair Waldorf yang memperlihatkan bahwa takdir pecundang adalah yang membuat kita sendiri, bukan karena adanya takdir yang sudah ada. Kita yang harus menjadikan kita pemenang, bukan takdir yang menjadikan kita pecundang.

destiny is for losers. it's just a stupid  excuse to wait for things to happen instead of making them happen. - Blair Waldorf -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar