Kamis, 15 Mei 2014

Pecandu Rasamu


            Biarkan aku mengalir bersama rasa yang membangkitkan kita untuk bersama. Tentu aku sangat tahu perasaan itu seperti apa, aku hanya ingin rasa itu membingkai klasik dengan penuh makna nya. Dengan semua pergerakan itu, dengan semua kesamaan itu, dan dengan kelincahan kita dalam menciptakan sebuah kejadian. Aku mengharapkan rasa yang sangat luar biasa.

            Ku biarkan bibir ini terus menyebutmu lantang di dalam hati. Aku hanya ingin berucap diam, seolah aku memahami makna yang terselip di antara namamu yang indah itu. Detik-detik saat bersamamu terasa mematahkan apa arti keindahan bunga mawar, bahkan konotasi bintang yang menyerumpunkan penyinaran seolah kandas saat kamu ada di sampingku.

            Hadirkan aku dalam berjuta ceritamu, meski kita sama-sama mengetahui apa itu arti dari sebuah kebersaman, setidaknya kita membuktikan bahwa cinta tak harus memiliki, namun cinta adalah kata “kita” seutuhnya. Bukankah kebersamaan melahirkan sebuah kualitas dari terciptanya chemistry, atau terus mengandalkan probabilitas yang menggantungkan kita pada ikatan takdir. Jika aku dan kamu mempunyai harapan saat ini, aku harap; gantungkan harapan itu pada satu bintang dari berjuta rasi bintang lainnya, semoga kita bertemu pada titik rasi bintang itu. Entah aku jatuh pada bintang Aquarius atau Orion. Setidaknya kita sudah berusaha untuk mengikat arti kebersamaan.

            Kali ini aku hanyut dalam asmara cintamu. Daya magismu terus menular dengan cepat tanpa ada selah pemikat. Bisakah aku menuntut rinduku untuk lebur bersama api cinta ini. Seperti olokan pemantun syair dalam sebuah aksara, kalanya aku harus tidur bersama kata-kata manis yang sering aku siapkan untuk dirimu.

            Tunggu sampai berapa lama cinta kita yang telah di siapkan Tuhan. Aku bernaung doa pada pemahaman pikiran ini, terus menyisipkan kata “kita” yang memang terkadang tidak yakin. Bukankah memang yang tidak yakin pada akhirnya menjadi yakin? ; Bukankah yang tidak pernah bertemu pada akhirnya akan di pertemukan? ; Dan bahkan pula yang hilang rasa pada akhirnya akan di ciptakan rasa baru yang lebih hebat?
 
            Aku percaya Tuhan menciptakan ruang baru pada setiap manusia berdasarkan proporsisinya. Bukan terhadap keinginannya yang menggebu untuk di kabulkan, melainkan terhadap kebutuhannya. Seperti kata-Nya, hadirmu datang pada saat aku membutuhkan sosok pendamai hidup, pemerhati jalan, pecandu rasa, dan penikmat kejadian.

            Aku kini sejalan denganmu, bukan untuk pengemban visi & misi, melainkan memupuk rasa yang kita ciptakan sendiri. Dengan kedua tanganku atau dengan kesepuluh jariku, mustahil rasanya aku bisa berdiri dengan penuh tegak. Aku butuh kamu. Kenyataanya memang aku membutuhkan kamu. Unsur kebersamaan yang memupuk adanya rasa di antara kita.

            Tentang kesepuluh jariku dan jarimu, dapatkah kita sama rapatkan dalam satu genggaman. Aku ingin lebih memainkan perananku dalam tali kebersamaan ini. Kandasnya aku masih belum berani untuk memulai, dalam macam kenadala yang melibatkan aku pada perasaan yang terus memikat terhadapmu.
 
Hingga saat barat menutup sang tata surya
Aku selalu hinggap dalam pemisah mimpi kita
Dimana tentang Tuhan sebagai sarana perencana
Izinkan aku untuk memulai
           
             Jika aku dikatakan cukup beruntung berada di dekatmu sampai saat ini, itu mungkin karena Tuhan sedang menyusun tulang rusukmu dari tulang rusukku. Benar, itu hanya perumpamaan, atau memang benar adanya. Aku hanya masih merasa malu terhadap rasa yang aku sering pendam, di balik kediamanku dalam meng-eja namamu secara tulus, dapatkah seseorang melakukan itu? Mungkin hanya aku, yaaa hanya aku.
 
Dengarlah, jeritan hatiku yang mugkin sering kamu abaikan.

3 komentar:

  1. jangan dipendam, kalo memang sudah siap, lamar aja :))

    BalasHapus
  2. Semangat mengejar cinta teman :D

    BalasHapus
  3. Ila & wahyu : Cerita ini adalah bentuk dari realisasi pendengar saya hehe jadi saya hanya bisa mengimplementasikannya dalam bentuk tulisan :)

    BalasHapus